Banyak calon mahasiswa doktor bertanya, apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional? Pertanyaan ini wajar karena program doktor identik dengan riset, publikasi ilmiah, disertasi, dan kontribusi akademik. Tidak sedikit calon pendaftar yang akhirnya ragu melanjutkan S3 karena merasa belum punya artikel di jurnal internasional.
Jawaban singkatnya: tidak selalu wajib saat mendaftar, tetapi pada banyak program doktor, publikasi ilmiah dapat menjadi syarat penting selama studi atau menjelang kelulusan. Ketentuannya bisa berbeda antara kampus, fakultas, program studi, jalur kuliah, jalur riset, dan bidang ilmu. Karena itu, calon mahasiswa S3 perlu membaca aturan kampus tujuan secara langsung, bukan hanya mengikuti informasi umum dari media sosial.
Daftar Isi
- 1. Apa Itu Jurnal Internasional dalam Kuliah S3?
- 2. Apakah Kuliah S3 Wajib Punya Jurnal Internasional?
- 3. Perbedaan Syarat Masuk dan Syarat Lulus S3
- 4. Contoh Ketentuan Publikasi di Beberapa Kampus
- 5. Mengapa Publikasi Penting untuk Mahasiswa Doktor?
- 6. Apakah Bisa Daftar S3 Jika Belum Punya Jurnal?
- 7. Tips Menyiapkan Publikasi untuk Kuliah S3
- 8. Kesalahan yang Perlu Dihindari
- 9. Kesimpulan
- 10. FAQ
- 11. Referensi
Apa Itu Jurnal Internasional dalam Kuliah S3?
Jurnal internasional adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel akademik dengan standar editorial, proses review, dan cakupan pembaca internasional. Dalam konteks S3, jurnal internasional biasanya berkaitan dengan hasil riset disertasi, artikel bersama promotor, atau publikasi yang menunjukkan kontribusi ilmiah mahasiswa.
Namun, istilah “jurnal internasional” perlu dibedakan dari “jurnal internasional bereputasi”. Beberapa kampus dapat meminta jurnal internasional terindeks Scopus, Web of Science, atau basis data bereputasi lain. Ada juga yang membedakan antara artikel yang sudah published, accepted, under review, atau baru submitted.
Karena itu, ketika bertanya apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional, calon mahasiswa perlu memperjelas dulu konteksnya. Apakah yang dimaksud adalah syarat mendaftar S3, syarat ujian disertasi, syarat yudisium, atau syarat lulus dengan predikat tertentu?
Baca juga: Kisi Kisi Soal TPA Bappenas dan Pembahasannya: Materi, Contoh, dan Tips Belajar

Apakah Kuliah S3 Wajib Punya Jurnal Internasional?
Secara nasional, aturan pendidikan tinggi tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai “semua calon mahasiswa S3 wajib sudah punya jurnal internasional sebelum masuk”. Regulasi terbaru tentang penjaminan mutu pendidikan tinggi adalah Permendikti Saintek Nomor 39 Tahun 2025, yang berlaku sejak 2 September 2025 dan mencabut Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023. Regulasi ini mengatur standar nasional pendidikan tinggi, standar yang ditetapkan perguruan tinggi, sistem penjaminan mutu, akreditasi, dan PD Dikti.
Artinya, perguruan tinggi tetap memiliki ruang untuk menetapkan standar tambahan sesuai karakter programnya. Dalam praktiknya, syarat publikasi untuk mahasiswa doktor dapat berbeda. Ada program yang meminta publikasi sebagai syarat pendaftaran, ada yang meminta publikasi sebagai syarat kelulusan, dan ada yang mengatur bentuk publikasi berdasarkan jalur studi atau kebijakan fakultas.
Jadi, jawaban untuk apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional adalah: belum tentu wajib saat masuk, tetapi sangat mungkin menjadi kewajiban selama studi atau sebelum lulus, tergantung kampus dan program studi.
Perbedaan Syarat Masuk dan Syarat Lulus S3
Kesalahan paling umum adalah mencampuradukkan syarat masuk dan syarat lulus. Padahal, keduanya berbeda.
Syarat masuk S3 adalah persyaratan yang harus dipenuhi calon mahasiswa ketika mendaftar. Biasanya meliputi ijazah S2, transkrip, IPK minimal, proposal riset, rekomendasi akademik, kemampuan bahasa Inggris, TPA atau tes potensi, wawancara, dan persetujuan calon promotor jika diminta.
Syarat lulus S3 adalah persyaratan yang harus dipenuhi mahasiswa doktor setelah menjalani studi. Biasanya meliputi pemenuhan SKS, kelulusan ujian kualifikasi atau proposal, penelitian disertasi, ujian tertutup atau terbuka, publikasi ilmiah, dan administrasi yudisium.
Karena itu, ketika membahas apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional, pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apakah kampus tujuan saya meminta publikasi internasional saat pendaftaran atau saat kelulusan?”
Contoh Ketentuan Publikasi di Beberapa Kampus
1. Contoh UI: Ada Program yang Meminta Publikasi Saat Pendaftaran
Pada laman Penerimaan UI untuk S3 Jalur SIMAK Periode 2025/2026 Semester 1, terdapat program yang mensyaratkan calon mahasiswa minimal memiliki dua publikasi ilmiah yang sudah terpublikasi di jurnal internasional dan jurnal nasional sebagai first author. Laman tersebut juga menyebut calon mahasiswa perlu memiliki pra-proposal yang disetujui calon tim promotor dari FKUI dan surat kesediaan membimbing dari calon tim promotor.
Contoh ini menunjukkan bahwa untuk program tertentu, publikasi bisa menjadi syarat masuk. Namun, ini tidak otomatis berarti semua program S3 di semua kampus memiliki syarat yang sama.
2. Contoh UGM: Publikasi Dapat Menjadi Syarat Kelulusan
Pada salah satu laman kurikulum program doktoral UGM, persyaratan kelulusan mencantumkan pemenuhan syarat publikasi ilmiah berdasarkan penelitian disertasi. Bentuknya dapat berupa satu artikel di jurnal internasional terindeks dan satu artikel di jurnal nasional terakreditasi, atau kombinasi publikasi lain sesuai ketentuan program.
Contoh lain dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM mencantumkan bahwa publikasi mahasiswa yang dijadikan syarat kelulusan harus memuat nama tim promotor, dan untuk jalur reguler terdapat pilihan publikasi jurnal internasional terindeks Scopus/Web of Science atau dua jurnal nasional SINTA 1/SINTA 2.
3. Contoh ITB: Publikasi Menjadi Bagian Syarat Kelulusan Doktor
ITB dalam informasi aturan akademik menyebut publikasi menjadi salah satu syarat kelulusan bagi program magister dan doktor. Untuk program doktor, beberapa panduan program menyebut mahasiswa harus memenuhi persyaratan terkait publikasi makalah ilmiah berdasarkan standar nasional dan ketentuan ITB yang berlaku.
Ada juga contoh program doktor di ITB yang menyebut mahasiswa wajib menerbitkan artikel dalam jurnal internasional bereputasi sebagai syarat kelulusan. Ini kembali menegaskan bahwa aturan bisa sangat spesifik per program.
Mengapa Publikasi Penting untuk Mahasiswa Doktor?
Publikasi ilmiah penting karena program doktor bertujuan menghasilkan kontribusi baru dalam ilmu pengetahuan. Artikel jurnal membantu memastikan hasil penelitian tidak hanya selesai sebagai disertasi, tetapi juga dibaca, diuji, dikritik, dan dimanfaatkan oleh komunitas akademik.
Bagi mahasiswa S3, publikasi juga berguna untuk:
- membuktikan kemampuan riset;
- memperkuat rekam jejak akademik;
- membantu proses akademik menuju kelulusan;
- membuka peluang kolaborasi;
- memperkuat peluang menjadi dosen, peneliti, atau profesional berbasis riset.
Namun, publikasi bukan sekadar “formalitas lulus”. Artikel yang baik harus berasal dari penelitian yang jelas, metode yang kuat, data yang valid, dan kontribusi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apakah Bisa Daftar S3 Jika Belum Punya Jurnal?
Bisa, tergantung program studi yang dituju. Banyak program doktor lebih menekankan proposal riset, kesiapan akademik, rekam jejak studi, kesesuaian calon promotor, pengalaman penelitian, dan kemampuan mengikuti proses seleksi. Namun, ada juga program yang secara eksplisit meminta publikasi sebelum pendaftaran.
Jadi, jika kamu belum punya jurnal internasional, jangan langsung menyimpulkan tidak bisa S3. Langkah yang lebih tepat adalah:
- cek laman admisi kampus tujuan;
- baca persyaratan khusus program studi;
- hubungi sekretariat prodi jika ada bagian yang belum jelas;
- cek apakah publikasi diminta saat masuk atau saat lulus;
- siapkan proposal riset yang kuat;
- mulai membangun rekam jejak publikasi sejak sebelum mendaftar.
Dengan cara ini, pertanyaan apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional bisa dijawab sesuai kampus tujuan, bukan berdasarkan asumsi umum.
Tips Menyiapkan Publikasi untuk Kuliah S3
Pertama, mulai dari topik riset yang jelas. Jangan menulis artikel hanya karena ingin punya publikasi. Artikel yang baik biasanya lahir dari pertanyaan penelitian yang kuat.
Kedua, pelajari standar jurnal. Perhatikan scope, format artikel, gaya sitasi, panjang naskah, proses review, dan indeksasi jurnal.
Ketiga, diskusikan dengan calon promotor atau dosen pembimbing. Untuk calon mahasiswa S3, arahan akademik sangat penting agar artikel yang ditulis sejalan dengan rencana riset doktoral.
Keempat, hindari jurnal predator. Jangan mudah tergiur janji publikasi cepat, biaya tidak jelas, atau proses review yang terlalu mudah. Publikasi di jurnal tidak kredibel dapat merugikan reputasi akademik.
Kelima, siapkan kemampuan bahasa Inggris akademik. Jika targetnya jurnal internasional, kamu perlu terbiasa menulis abstrak, pendahuluan, metode, hasil, dan diskusi dalam bahasa Inggris ilmiah.
Keenam, bangun kebiasaan membaca artikel jurnal. Semakin sering membaca artikel berkualitas, semakin mudah memahami struktur tulisan akademik yang baik.
Baca juga: Berapa Total Soal TPA Bappenas? Ini Jumlah Soal, Durasi, dan Strategi Mengerjakannya

Kesalahan yang Perlu Dihindari
Kesalahan pertama adalah mengira semua S3 wajib punya jurnal internasional sebelum mendaftar. Faktanya, beberapa program mewajibkan publikasi saat masuk, tetapi banyak program lain menempatkan publikasi sebagai syarat selama studi atau kelulusan.
Kesalahan kedua adalah menyamakan jurnal internasional dengan jurnal internasional bereputasi. Jika kampus meminta jurnal bereputasi, cek indeksasi dan ketentuan resminya.
Kesalahan ketiga adalah tidak membaca aturan program studi. Syarat doktor bisa berbeda meski masih dalam satu universitas.
Kesalahan keempat adalah mengejar publikasi cepat tanpa memperhatikan kualitas. Untuk S3, kualitas riset jauh lebih penting daripada sekadar jumlah artikel.
Kesalahan kelima adalah menunda publikasi sampai akhir studi. Proses submit, review, revisi, accepted, dan published bisa memakan waktu lama. Karena itu, mahasiswa doktor sebaiknya mulai memikirkan strategi publikasi sejak awal.
Memahami apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional akan membantu kamu menyiapkan langkah lebih realistis. Jika kampus tujuan meminta publikasi, kamu bisa mulai memperkuat riset dan artikel sejak awal. Jika belum wajib saat pendaftaran, kamu tetap perlu menyiapkan proposal, kemampuan akademik, dan strategi publikasi selama studi.
Agar persiapan S3 lebih terarah, kamu bisa belajar bersama jagotpa.id untuk memperkuat kemampuan akademik, memahami pola seleksi pascasarjana, dan menyiapkan tes yang sering dibutuhkan dalam proses admisi. Dengan persiapan yang rapi, proses menuju studi doktoral bisa dijalani lebih percaya diri.
Kesimpulan
Jadi, apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional? Jawabannya tidak bisa disamaratakan. Tidak semua program S3 mewajibkan calon mahasiswa sudah memiliki jurnal internasional saat mendaftar. Namun, banyak program doktor menjadikan publikasi ilmiah, termasuk jurnal internasional atau jurnal internasional bereputasi, sebagai syarat penting selama studi atau menjelang kelulusan.
Kunci utamanya adalah membaca aturan kampus dan program studi tujuan. Bedakan antara syarat masuk dan syarat lulus. Jika belum punya publikasi, kamu tetap bisa mencari program yang tidak mensyaratkannya saat pendaftaran, sambil mulai menyiapkan rekam jejak riset dan kemampuan menulis ilmiah. Untuk program doktor, publikasi bukan hanya kewajiban administratif, tetapi bagian dari proses membangun kontribusi akademik yang nyata.
FAQ
Apakah kuliah S3 wajib punya jurnal internasional?
Tidak selalu wajib saat mendaftar. Namun, banyak program S3 mensyaratkan publikasi ilmiah selama studi atau sebelum kelulusan, tergantung aturan kampus dan program studi.
Apakah bisa daftar S3 tanpa publikasi jurnal internasional?
Bisa, jika program studi tujuan tidak mensyaratkan publikasi internasional saat pendaftaran. Tetap cek syarat resmi kampus karena setiap prodi bisa berbeda.
Apakah jurnal internasional wajib untuk lulus S3?
Pada banyak program doktor, publikasi ilmiah menjadi salah satu syarat kelulusan. Bentuknya bisa jurnal internasional, jurnal internasional bereputasi, jurnal nasional terakreditasi, atau kombinasi lain sesuai aturan kampus.
Apa bedanya jurnal internasional dan jurnal internasional bereputasi?
Jurnal internasional bereputasi biasanya memiliki standar seleksi lebih ketat dan terindeks dalam basis data bereputasi seperti Scopus atau Web of Science, sesuai ketentuan kampus.
Kapan sebaiknya mahasiswa S3 mulai menyiapkan publikasi?
Sebaiknya sejak awal studi. Proses riset, penulisan, submit, review, revisi, dan accepted dapat memakan waktu lama.
Referensi
- BPK RI — Permendikti Saintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
- Penerimaan UI — Persyaratan Pendaftaran Program Studi S3 Jalur SIMAK Periode 2025/2026 Semester 1.
- UGM — Kurikulum Program Doktoral dan Persyaratan Publikasi Ilmiah.
- FKKMK UGM — Surat Edaran Publikasi dan Seminar Hasil Program Doktor.
- ITB — Pengenalan Sekolah Pascasarjana dan Aturan Akademik Program Pascasarjana.
- ITB — Panduan Penyelenggaraan Program Doktor.
- SAPPK ITB — Prosedur Operasional Standar Program Studi Doktoral Perencanaan Wilayah dan Kota.



