Seleksi masuk program magister tidak selalu hanya berupa pemeriksaan ijazah dan transkrip. Sejumlah kampus meminta peserta mengikuti tes potensi akademik, tes bahasa Inggris, wawancara, hingga ujian bidang yang disesuaikan dengan program studi.
Lantas, tes pendidikan S2 apa saja? Secara umum, seleksi dapat meliputi tes potensi akademik, tes kemampuan bahasa Inggris, tes bidang atau substantif, wawancara, serta penilaian proposal dan portofolio. Namun, tidak semua kampus menerapkan seluruh jenis tes tersebut.
Sebagai contoh, SIMAK UI Pascasarjana 2026 menggunakan Pengukuran Kemampuan Akademik dan Bahasa Inggris. UNY menggunakan CBT berisi Tes Potensi Akademik dan Bahasa Inggris, sedangkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung menerapkan CBT serta wawancara. Perbedaan ini menunjukkan bahwa peserta harus mengikuti ketentuan kampus dan program studi tujuan.
Daftar Isi
- 1. Apakah Tes Masuk S2 Sama di Semua Kampus?
- 2. Tes Potensi Akademik
- 3. Tes Kemampuan Bahasa Inggris
- 4. Tes Bidang atau Tes Substantif
- 5. Wawancara Program Magister
- 6. Penilaian Proposal Penelitian
- 7. Seleksi Portofolio dan Dokumen Akademik
- 8. Contoh Tes Masuk S2 di Beberapa Kampus
- 9. Apakah Semua Tes Harus Diikuti?
- 10. Cara Mempersiapkan Seleksi S2
- 11. Kesalahan yang Perlu Dihindari
- 12. Persiapan melalui jagotpa.id
- 13. Kesimpulan
- 14. FAQ
- 15. Referensi
Apakah Tes Masuk S2 Sama di Semua Kampus?
Tidak. Jenis tes masuk S2 dapat berbeda berdasarkan universitas, program studi, jalur penerimaan, dan karakter pendidikan yang dipilih.
Ada kampus yang menyelenggarakan ujian langsung dalam satu rangkaian seleksi. Ada pula kampus yang meminta peserta sudah mempunyai sertifikat tes potensi dan bahasa Inggris sebelum mengirimkan pendaftaran.
UGM, misalnya, meminta sertifikat hasil tes potensi dan kemampuan bahasa Inggris yang masih berlaku. Tes potensi yang diterima mencakup PAPs UGM, TPDA PLTI, dan TPA Bappenas. Untuk bahasa Inggris, pilihan sertifikatnya antara lain AcEPT UGM, TOEP, IELTS, TOEFL iBT, dan TOEFL ITP. Masa berlaku dokumen umumnya maksimal dua tahun.
Sementara itu, program studi tertentu di UGM masih dapat mengadakan tes substantif atau wawancara tambahan. Jadwal seleksi pascasarjana UGM 2026 bahkan mencantumkan tes substantif dengan keterangan “apabila ada”.
Baca juga: Berapa Semester Kuliah S2 di UGM? Ini Durasi Normal dan Batas Maksimalnya
1. Tes Potensi Akademik
Tes potensi akademik digunakan untuk mengukur kesiapan peserta mengikuti pendidikan tingkat lanjut. Materinya umumnya tidak berfokus pada satu jurusan, tetapi menguji kemampuan berpikir dan mengolah informasi.
Bagian yang sering muncul meliputi:
- kemampuan verbal;
- kemampuan kuantitatif;
- penalaran logis;
- analisis informasi;
- pemecahan masalah.
Pada SIMAK UI Pascasarjana Gelombang 2 Tahun 2026, Pengukuran Kemampuan Akademik atau PEKA terdiri atas 40 soal kemampuan verbal, 35 soal kuantitatif, dan 25 soal logika. Totalnya adalah 100 soal dengan durasi 120 menit.
Sistem penilaian PEKA pada periode tersebut memberikan nilai +4 untuk jawaban benar, -1 untuk jawaban salah, dan 0 untuk soal yang tidak dijawab. Ketentuan ini menunjukkan pentingnya ketelitian selain kecepatan.
Di kampus lain, tes potensi dapat menggunakan nama berbeda, seperti:
- TPA Bappenas;
- PAPs UGM;
- TPDA;
- UPDA ITB;
- PEKA UI;
- tes potensi yang diselenggarakan internal kampus.
Nama, jumlah soal, skor minimal, dan lembaga penerbit sertifikat harus diperiksa pada laman resmi penerimaan.
2. Tes Kemampuan Bahasa Inggris
Jawaban berikutnya atas pertanyaan tes pendidikan S2 apa saja adalah tes bahasa Inggris. Tes ini digunakan karena mahasiswa magister akan berhadapan dengan jurnal, buku, penelitian, dan istilah akademik berbahasa Inggris.
Jenis tes yang dapat diterima antara lain:
- TOEFL ITP;
- TOEFL iBT;
- IELTS;
- tes bahasa internal kampus;
- AcEPT UGM;
- ELPT ITB;
- TOEP PLTI.
Pada SIMAK UI Pascasarjana 2026, ujian bahasa Inggris terdiri atas Structure and Written Expression sebanyak 40 soal serta Vocabulary and Reading Comprehension sebanyak 50 soal. Total durasinya adalah 90 menit.
UNY juga menetapkan CBT dengan materi Tes Potensi Akademik dan kemampuan bahasa Inggris untuk jalur seleksi Magister dan Doktor. Jalur portofolio UNY dapat meminta peserta mengunggah skor TOEFL atau ITP serta skor tes potensi akademik.
Skor minimal bahasa Inggris tidak selalu sama. Program internasional dan program yang banyak menggunakan literatur berbahasa Inggris dapat menetapkan standar lebih tinggi.
3. Tes Bidang atau Tes Substantif
Tes bidang mengukur penguasaan dasar yang berkaitan langsung dengan program studi tujuan. Tes ini dapat disebut sebagai:
- tes kemampuan bidang;
- tes materi akademik;
- tes substantif;
- ujian program studi;
- tes kompetensi keilmuan.
Materinya bergantung pada jurusan. Pendaftar Magister Manajemen mungkin diuji mengenai dasar bisnis dan manajemen, sedangkan pendaftar bidang teknik dapat memperoleh soal matematika, sains, atau dasar rekayasa.
Program Magister Biomanajemen ITB, misalnya, menjelaskan bahwa proses seleksinya dapat mencakup TPA, kemampuan bahasa Inggris, tes materi akademik, dan wawancara. Materi akademiknya berhubungan dengan biologi sel, genetika molekuler, serta aplikasi bioteknologi di bidang kesehatan, pertanian, dan industri.
Karena tes bidang sangat spesifik, peserta sebaiknya mempelajari kembali materi dasar S1 yang paling berkaitan dengan program tujuan.
4. Wawancara Program Magister
Wawancara digunakan untuk menggali kesiapan peserta yang tidak selalu terlihat melalui nilai tes.
Topik yang dapat dibahas meliputi:
- alasan melanjutkan S2;
- alasan memilih program studi;
- kesesuaian latar belakang pendidikan;
- rencana penelitian;
- pengalaman kerja atau organisasi;
- kesiapan membiayai kuliah;
- target setelah lulus;
- kemampuan mengikuti perkuliahan;
- pemahaman terhadap bidang pilihan.
UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjelaskan bahwa seleksi pascasarjana 2026/2027 menggunakan ujian CBT dan wawancara daring. Wawancara dilakukan melalui Zoom, dengan satu peserta menghadapi satu pewawancara selama sekitar 10–20 menit.
Pada UGM, wawancara dapat ditetapkan oleh program studi. Magister Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, misalnya, memanggil calon mahasiswa yang lolos administrasi untuk mengikuti wawancara secara daring pada penerimaan 2026.
Wawancara bukan sekadar mengulang isi formulir. Peserta perlu memberikan alasan yang konkret dan konsisten dengan dokumen pendaftaran.
5. Penilaian Proposal Penelitian
Program magister berbasis riset dapat meminta sinopsis atau proposal penelitian. Dokumen ini membantu program studi menilai apakah topik peserta sesuai dengan bidang keilmuan, fasilitas, dan calon pembimbing yang tersedia.
Proposal umumnya memuat:
- latar belakang masalah;
- pertanyaan penelitian;
- tujuan;
- tinjauan awal;
- metode;
- rencana data;
- manfaat penelitian;
- referensi.
IPB University meminta pendaftar program S2 tertentu mengunggah sinopsis rencana penelitian maksimal tiga halaman. Untuk jalur berbasis penelitian, proposal juga perlu memperoleh persetujuan calon pembimbing sesuai ketentuan jalur tersebut.
Proposal tidak harus sudah sama persis dengan tesis akhir. Namun, isinya perlu menunjukkan bahwa peserta memahami masalah, mempunyai arah penelitian, dan memilih program yang relevan.
6. Seleksi Portofolio dan Dokumen Akademik
Beberapa jalur tidak menyelenggarakan seluruh tes secara langsung. Peserta dapat dinilai melalui portofolio yang berisi:
- IPK dan transkrip;
- skor TPA;
- skor bahasa Inggris;
- karya ilmiah;
- pengalaman penelitian;
- prestasi;
- pengalaman profesional;
- surat rekomendasi;
- proposal;
- publikasi.
Jalur portofolio UNY, misalnya, meminta calon mahasiswa mengunggah dokumen seperti skor bahasa Inggris, tes potensi akademik, karya akademik, dan bukti prestasi yang relevan.
Seleksi dokumen tidak berarti lebih mudah. Peserta tetap perlu memastikan seluruh dokumen valid, terbaca, masih berlaku, dan sesuai dengan format yang diminta.
Contoh Tes Masuk S2 di Beberapa Kampus
Berikut perbandingan sederhana berdasarkan informasi resmi 2026:
| Kampus | Bentuk seleksi yang dapat digunakan |
|---|---|
| Universitas Indonesia | PEKA dan Bahasa Inggris, serta ketentuan tambahan program |
| Universitas Gadjah Mada | Sertifikat tes potensi, bahasa Inggris, dan tes substantif apabila ada |
| Universitas Negeri Yogyakarta | CBT TPA dan bahasa Inggris atau jalur portofolio |
| UIN Sunan Gunung Djati Bandung | CBT dan wawancara daring |
| Institut Teknologi Bandung | TPA atau UPDA, bahasa Inggris, dan seleksi program studi |
| IPB University | TPA, bahasa Inggris, sinopsis penelitian, serta seleksi fakultas |
ITB menetapkan pemenuhan standar akademik melalui TPA Bappenas atau UPDA ITB dan standar bahasa melalui sertifikat yang diakui. Program tertentu dapat menetapkan skor serta seleksi tambahan yang lebih khusus.
Perbandingan tersebut hanya memberikan gambaran. Gunakan persyaratan terbaru program tujuan sebagai acuan final.
Apakah Semua Tes Harus Diikuti?
Tidak selalu. Seorang peserta mungkin hanya perlu mengunggah sertifikat TPA dan bahasa Inggris. Peserta lain harus mengikuti CBT, tes bidang, wawancara, dan seleksi proposal.
Ketentuan dapat dipengaruhi oleh:
- jalur reguler atau berbasis riset;
- program domestik atau internasional;
- jurusan linear atau lintas bidang;
- pengalaman kerja;
- jalur kerja sama;
- gelombang penerimaan;
- kebijakan program studi.
Karena itu, setelah mencari tes pendidikan S2 apa saja, jangan berhenti pada informasi umum. Buka laman program studi dan cari bagian persyaratan khusus.

Cara Mempersiapkan Seleksi S2
Pertama, buat daftar seluruh tahapan seleksi program tujuan. Pisahkan antara dokumen yang harus dimiliki sebelum pendaftaran dan tes yang dilakukan setelah lolos administrasi.
Kedua, kerjakan tes diagnostik TPA. Catat apakah kelemahan utama berada pada verbal, numerik, logika, atau pengaturan waktu.
Ketiga, persiapkan bahasa Inggris lebih awal. Sertifikat resmi membutuhkan jadwal tes dan waktu penerbitan hasil.
Keempat, pelajari kembali materi dasar jurusan untuk menghadapi tes bidang.
Kelima, buat rancangan proposal yang realistis. Pilih topik dengan masalah, sumber data, dan metode yang cukup jelas.
Keenam, berlatih wawancara. Siapkan penjelasan tentang alasan studi, program pilihan, pengalaman, penelitian, dan rencana setelah lulus.
Ketujuh, periksa masa berlaku sertifikat. UGM, misalnya, menggunakan batas masa berlaku maksimal dua tahun untuk sertifikat tes potensi dan bahasa Inggris.
Baca juga: Lanjut S2 Harus IPK Berapa? Cek Batas Minimal Kampus dan Beasiswa 2026
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Beberapa kesalahan umum adalah:
- menganggap semua kampus memakai tes yang sama;
- terlambat mengikuti TPA atau TOEFL;
- tidak membaca persyaratan program studi;
- hanya berlatih soal tanpa mengatur waktu;
- mengabaikan tes bidang;
- membuat proposal terlalu luas;
- memberikan jawaban wawancara yang terlalu umum;
- mengunggah sertifikat kedaluwarsa;
- menganggap batas minimal skor menjamin kelulusan.
Skor minimal hanya menjadi salah satu persyaratan. Kelulusan tetap dapat dipengaruhi persaingan, kapasitas program, kualitas dokumen, dan hasil seleksi lainnya.
Persiapkan Tes S2 melalui jagotpa.id
Setelah mengetahui tes pendidikan S2 apa saja, kamu dapat mulai memprioritaskan kemampuan yang paling sering digunakan dalam seleksi, terutama verbal, numerik, logika, dan analisis.
Materi serta latihan di jagotpa.id dapat membantu proses belajar menjadi lebih terarah. Tetap sesuaikan latihan dengan jenis tes, skor minimal, dan ketentuan resmi dari kampus tujuan.
Kesimpulan
Jadi, tes pendidikan S2 apa saja? Jenis yang paling umum adalah tes potensi akademik, kemampuan bahasa Inggris, tes bidang, wawancara, serta penilaian proposal atau portofolio.
Tidak semua peserta akan mengikuti seluruh tes tersebut. UI menggunakan PEKA dan bahasa Inggris, UNY menggunakan CBT TPA dan bahasa Inggris, sedangkan UIN Bandung menyelenggarakan CBT serta wawancara. UGM, ITB, dan IPB juga mempunyai ketentuan sertifikat serta seleksi khusus masing-masing.
Mulailah persiapan dengan membaca persyaratan resmi, mengikuti tes diagnostik, menyiapkan sertifikat, dan mempelajari program tujuan. Persiapan lebih awal akan mengurangi risiko terlambat melengkapi dokumen atau menghadapi ujian tanpa strategi.
FAQ
1. Tes pendidikan S2 apa saja?
Secara umum, seleksi S2 dapat meliputi TPA, bahasa Inggris, tes bidang, wawancara, proposal penelitian, dan penilaian portofolio.
2. Apakah semua kampus mewajibkan TPA?
Tidak. Sebagian kampus mewajibkan sertifikat TPA, sebagian mengadakan tes internal, dan sebagian menggunakan bentuk seleksi lain.
3. Apakah masuk S2 harus mengikuti TOEFL?
Tidak selalu harus TOEFL. Kampus dapat menerima IELTS, tes internal, atau sertifikat bahasa Inggris lain yang telah ditentukan.
4. Apa yang ditanyakan saat wawancara S2?
Pertanyaan dapat membahas motivasi, pilihan program, rencana penelitian, pengalaman, kesiapan kuliah, pembiayaan, dan rencana setelah lulus.
5. Apakah tes masuk S2 mempunyai passing grade?
Beberapa kampus menetapkan skor minimal untuk TPA atau bahasa Inggris. Namun, skor minimal belum tentu menjamin diterima karena masih ada unsur seleksi lainnya.
Referensi
- Universitas Indonesia — Simulasi dan Materi Ujian SIMAK UI Pascasarjana Gelombang 2 Tahun 2026.
- Universitas Gadjah Mada — Persyaratan Pendaftaran Program Magister.
- Universitas Gadjah Mada — Jadwal dan Tes Substantif Seleksi Pascasarjana Tahun 2026.
- Universitas Negeri Yogyakarta — Informasi Umum Seleksi Program Magister dan Doktor Tahun 2026.
- UIN Sunan Gunung Djati Bandung — FAQ PMB Pascasarjana Tahun Akademik 2026/2027.
- Institut Teknologi Bandung — Persyaratan Program Magister dan Pemenuhan Standar Akademik serta Bahasa.
- IPB University — Persyaratan Pendaftaran Program Magister Jalur Khusus Tahun 2026.
- Program Magister Biomanajemen ITB — Tes Materi Akademik dan Wawancara Penerimaan Mahasiswa.



